Berbicara mengenai
kebutuhan manusia saat ini tentu tidak akan ada habisnya, manusia tidak akan
pernah puas atas apa yang telah didapatkannya. Namun, ada satu hal yang
dibutuhkan manusia didunia ini, dimana kebutuhan ini sangatlah mendasar
dan menurut saya secara pribadi
merupakan yang terpenting untuk makhluk hidup seperti kita yaitu, “AIR”. Pada
akhirnya hal inilah yang membuat saya ingin menata industri air terutama di
Negara saya sendiri. Namun, sebelum pembahasan menjauh mungkin kita harus tahu
dulu asal mula air berasal dan permasalahan air bersih di Indonesia.
v Asal
Mula Air Planet Bumi
Pada
dasarnya asal mula air Planet Bumi ini memiliki cerita yang cukup panjang dan
kompleks yang merenggang kembali ke sekitar 13,8 miliar tahun lalu, yaitu
beberapa saat setelah terjadinya Big Bang dan bagian penting dari cerita,
berpusat pada dua penghuni tata surya, telah hangat diperdebatkan selama
beberapa dekade.
Sekitar tiga menit setelah Big Bang, temperatur alam semesta terus menurun menjadi satu milyar Kelvin. Energi kinetik yang dihasilkan temperatur sebesar ini sudah tidak mampu lagi menahan gaya nuklir kuat antara proton dan netron yang selanjutnya, bergabung menjadi inti-inti atom ringan. Proses ini dinamakan sebagai proses nukleosintesis. Salah satu prestasi besar kosmologi modern adalah deskripsi matematis dari proses ini, yang memberikan prediksi akurat untuk kelimpahan kosmik dari inti-inti atom yang paling sederhana yaitu hidrogen, lebih sedikit helium dan hanya beberapa lithium. Terciptanya hidrogen dengan berlimpah ini adalah awal yang tepat dalam perjalanan menuju terciptanya molekul air, tapi bagaimana dengan atom penting lain dari air, yaitu oksigen? Di situlah peran bintang, yaitu sekitar satu miliar tahun setelah Big Bang, bintang-bintang generasi pertama masuk dalam cerita ini. Jauh di dalam interior panas mereka, tungku nuklir bintang-bintang memadukan inti-inti sederhana yang tercipta setelah Big Bang menjadi elemen-elemen yang lebih kompleks, termasuk karbon, nitrogen dan, oksigen. Kemudian, dalam bagian akhir kehidupan bintang, ketika bintang bersupernova ledakannya memuntahkan elemen-elemen ini ke ruang angkasa. Oksigen dan hidrogen bergabung menciptakan H2O. ada juga bagian di mana cerita menjadi sedikit lebih rumit. Molekul-molekul air yang pasti menjadi bagian dari pusaran berdebu yang mengelilingi bintang-bintang generasi kedua (seperti matahari kita) yang baru lahir dan membentuk planet-planet dan obyek-obyek tata surya lainnya. Peristiwa seperti ini dimulai sekitar sembilan miliar tahun setelah Big Bang. Tapi dalam sejarah awal bumi, suhu lingkungan sangat tinggi dan tidak ada atmosfer yang membungkus, menyiratkan bahwa air permukaan akan menguap dan melayang kembali ke angkasa.
Sekitar tiga menit setelah Big Bang, temperatur alam semesta terus menurun menjadi satu milyar Kelvin. Energi kinetik yang dihasilkan temperatur sebesar ini sudah tidak mampu lagi menahan gaya nuklir kuat antara proton dan netron yang selanjutnya, bergabung menjadi inti-inti atom ringan. Proses ini dinamakan sebagai proses nukleosintesis. Salah satu prestasi besar kosmologi modern adalah deskripsi matematis dari proses ini, yang memberikan prediksi akurat untuk kelimpahan kosmik dari inti-inti atom yang paling sederhana yaitu hidrogen, lebih sedikit helium dan hanya beberapa lithium. Terciptanya hidrogen dengan berlimpah ini adalah awal yang tepat dalam perjalanan menuju terciptanya molekul air, tapi bagaimana dengan atom penting lain dari air, yaitu oksigen? Di situlah peran bintang, yaitu sekitar satu miliar tahun setelah Big Bang, bintang-bintang generasi pertama masuk dalam cerita ini. Jauh di dalam interior panas mereka, tungku nuklir bintang-bintang memadukan inti-inti sederhana yang tercipta setelah Big Bang menjadi elemen-elemen yang lebih kompleks, termasuk karbon, nitrogen dan, oksigen. Kemudian, dalam bagian akhir kehidupan bintang, ketika bintang bersupernova ledakannya memuntahkan elemen-elemen ini ke ruang angkasa. Oksigen dan hidrogen bergabung menciptakan H2O. ada juga bagian di mana cerita menjadi sedikit lebih rumit. Molekul-molekul air yang pasti menjadi bagian dari pusaran berdebu yang mengelilingi bintang-bintang generasi kedua (seperti matahari kita) yang baru lahir dan membentuk planet-planet dan obyek-obyek tata surya lainnya. Peristiwa seperti ini dimulai sekitar sembilan miliar tahun setelah Big Bang. Tapi dalam sejarah awal bumi, suhu lingkungan sangat tinggi dan tidak ada atmosfer yang membungkus, menyiratkan bahwa air permukaan akan menguap dan melayang kembali ke angkasa.
Air yang kita miliki saat ini, tampaknya, haruslah ada lama
setelah Bumi terbentuk. Pada tata surya kita, selama periode sekitar 4 miliar
tahun yang lalu yang disebut Late Heavy Bombardment, obyek-obyek besar,
asteroid dan/atau komet menabrak bumi dan planet-planet dalam. Ada kemungkinan
bahwa obyek-obyek tersebut mengandung air, dan bahwa tabrakan-tabrakan tersebut
bisa menciptakan lautan air yang memenuhi bumi. Namun, pengukuran jarak jauh
dari air yang menguap dari beberapa komet besar yang ada (Halley, Hyakutake,
dan Hale-Bopp) mengungkapkan bahwa air es mereka dibuat dari berbagai jenis H2O
(mengandung isotop Hidrogen yang lebih berat) dari H2O Bumi,
menunjukkan bahwa komet ini tidak bisa menjadi sumber air kita. Demikian juga
penelitian yang dilakukan oleh misi rosetta terhadap komet
67P/Churyumov-Gerasimenko menunjukkan bahwa jenis hidrogen pada airnya berbeda
dengan air bumi. Sejak Agustus wahana antariksa Rosetta mengorbit komet
67P/Churyumow-Gerasimenko.
Kini peneliti Badan Antariksa Eropa (ESA) itu mempublikasikan
data pertama hasil analisa terhadap air yang terperangkap di tubuh komet.
Hasilnya, air yang membeku di komet Chury berbeda dengan air yang terdapat di
permukaan Bumi, tulis tim ilmuwan yang dipimpin oleh Kathrin Altwegg dari
Universitas Bern di jurnal ilmiah, Science. Temuan tersebut mengesampingkan
komet sebagai sumber air di Bumi. Dalam analisanya, Atlwegg dan timnya meneliti
rasio Hidrogen berat dan Hidrogen ringan yang membentuk air jika digabungkan
dengan Oksigen. Ketika inti atom Hidrogen ringan cuma memiliki satu Proton,
Hidrogen berat alias Deutrium memiliki tambahan Neutron pada inti atomnya.
Studi mengungkap, jejak Hidrogen Berat pada Chury berjumlah tiga kali lebih
banyak ketimbang di samudera Bumi. Penelitian serupa pada komet lain menemukan
jumlah Hidrogen berat yang lebih sedikit. Altwegg mengatakan rasio Hidrogen
berat berbeda-beda pada komet dengan jenis yang sama. Seperti misalnya pada
komet Haley. Kedua komet terbentuk di Sabuk Kuiper. Namun secara umum, hasil
penelitian itu membuktikan bahwa air yang terperangkap di tubuh komet berbeda
jauh dengan air di Bumi. Setidaknya air di Bumi tidak berasal dari keluarga
komet Churyumov-Gerasimenko, begitu kesimpulan peneliti. Dengan temuan ini
dunia sains kembali melirik Asteroid sebagai sumber air di Bumi.
Asal usul air di Bumi sejauh ini belum bisa dijelaskan secara
menyeluruh. Teori yang populer menyebut samudera di Bumi terbentuk berkat
hantaman komet dan asteroid yang banyak terjadi pada awal pembentukan planet.
Penjelasan alternatif adalah bahwa Bumi sejak awal merupakan planet yang kaya
air. Teori tersebut dipublikasikan di jurnal Science belum lama ini. Pada
Asteoroid Vesta, para peneliti menemukan rasio Hidrogen berat dan Hidrogen
ringan yang serupa dengan air di Bumi.
Analisa tersebut menyimpulkan air sudah terbentuk di lingkaran terdalam sistem tata surya muda dalam jumlah besar. Selama ini ilmuwan meyakini air di Bumi berasal dari sabuk Kuiper yang berada di lingkaran terluar. Namun, studi yang lain mengungkap, sebagian air di Bumi berusia lebih tua dari sistem matahari. Agustus silam peneliti dari Carnegie Institution for Science di Washington mengklaim, air di Bumi berawal sebagai awan molekuler di ruang antarbintang yang kemudian membentuk matahari dan planet. Dengan komet besar dicoret daftar, astronom mulai bertanya-tanya apakah mungkin petunjuk tentang air bumi terletak di sabuk asteroid. Wilayah ratusan ribu asteroid yang mengorbit antara planet-planet dalam dan luar tata surya kita ini awalnya diyakini oleh para astronom terlalu dekat dengan matahari untuk menjadi rumah air, namun para astronom menemukan bukti pertama es di asteroid 24 Themis. Penemuan ini diikuti penemuan-penemuan lainnya dari es di asteroid menunjukkan bahwa mungkin ada jauh lebih banyak es di sabuk asteroid daripada yang diperkirakan dan memberikan kemungkinan yang cukup besar, bahwa asteroid-asteroid lah yang merupakan asal air di bumi. Tetapi, analisis saat ini masih didasarkan pada sampel yang terbatas, yang berarti masih ada kemungkinan bahwa kita belum sampai pada kesimpulan akhir.
Analisa tersebut menyimpulkan air sudah terbentuk di lingkaran terdalam sistem tata surya muda dalam jumlah besar. Selama ini ilmuwan meyakini air di Bumi berasal dari sabuk Kuiper yang berada di lingkaran terluar. Namun, studi yang lain mengungkap, sebagian air di Bumi berusia lebih tua dari sistem matahari. Agustus silam peneliti dari Carnegie Institution for Science di Washington mengklaim, air di Bumi berawal sebagai awan molekuler di ruang antarbintang yang kemudian membentuk matahari dan planet. Dengan komet besar dicoret daftar, astronom mulai bertanya-tanya apakah mungkin petunjuk tentang air bumi terletak di sabuk asteroid. Wilayah ratusan ribu asteroid yang mengorbit antara planet-planet dalam dan luar tata surya kita ini awalnya diyakini oleh para astronom terlalu dekat dengan matahari untuk menjadi rumah air, namun para astronom menemukan bukti pertama es di asteroid 24 Themis. Penemuan ini diikuti penemuan-penemuan lainnya dari es di asteroid menunjukkan bahwa mungkin ada jauh lebih banyak es di sabuk asteroid daripada yang diperkirakan dan memberikan kemungkinan yang cukup besar, bahwa asteroid-asteroid lah yang merupakan asal air di bumi. Tetapi, analisis saat ini masih didasarkan pada sampel yang terbatas, yang berarti masih ada kemungkinan bahwa kita belum sampai pada kesimpulan akhir.
v Permasalahan dan Solusi Air Bersih di
Indonesia
Jika berbicara air bersih di Indonesia tentu tidak akan ada
habisnya dan bahkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) telah
menyatakan 12 Provinsi di Indonesia mengalami kekeringan parah, berdasarkan
data yang dilansir National Geographic wilayah – wilayah yang mengalami
meliputi 77 Kabupaten Kota dan 526 Kecamatan. Bahkan, 20 persen dari penduduk
Indonesia meninggal diakibatkan kekurangan air bersih. Tentu sebenarnya saat
ini Indonesia tengah berupaya mencari solusi demi solusi untuk menyelesaikan
masalah ini diantaranya yaitu, dengan pemanfaatan air hujan seperti analisa
dari Teknik Pengairan Universitas Brawijaya, ada juga solusi dengan menggunakan
Pompa Hidram (Hidrolik Ram) di area Gunung Rinjani dan juga Indonesia mencoba bekerjasama
dengan Perusahaan Australia dimana mereka mengenalkan Teknologi Desenalisasi.
Teknologi ini menggunakan tenaga surya dan mencakup Zero Liquid Discharge (ZLD)
yang mampu mengubah air yang terkontaminasi dan air laut menjadi air bersih
berkualiatas tinggi tanpa meninggalkan emisi gas rumah kaca dan untuk
penyulingan pada limbah hasilnya
merupakan kombinasi antara air minum dan garam. Teknologi ini diciptakan oleh Peter Johnstone dan ia berharap mampu
membangun pabriknya di Indonesia dengan investasi $10 Juta USD dan
untuk hak patennya sendiri telah
digunakan sampai 26 Negara yang ada di Didunia ini.
v Revitalisasi Air Bersih di Indonesia
Melihat paparan diatas tersebutlah yang membuat saya secara
pribadi prihatin dan ingin menciptakan perubahan pada Negara Tercinta ini. Saya
ketika kelak lulus Teknik Industri sangat ingin menciptakan Perusahaan Industri
Berbasis Revitalisasi Air Bersih walaupun hal tersebut akan membutuhkan proses
yang sangat panjang dan saya harapkan kelak Pihak Pemerintah mau membantu saya
dalam menciptakan Industri besar ini, karena saya yakin untuk menjawab soal
“Bagaimana cara menyelesaikan permasalahan kesulitan air bersih di Indonesia ?”
maka jawaban yang tepat adalah menciptakan revitalisasi air bersih dengan baik
dan mampu menjangkau seluruh Indonesia. Revitalisasi secara definisi menurut
saya, ialah proses pembaharuan dan perbuatan untuk menjadi vital. Jadi, Revitalisasi
yang saya maksud ialah pembaharuan pada proses produksi dan distribusi atau
penyaluran ke seluruh penduduk Negara di Indonesia.
Berdasarkan sedikit paparan mengenai solusi diatas membuat
saya berfikir, bukankah dari pada kita bergantung dengan Negara lain alangkah
baiknya terutama saya dapat membantu Negara saya sendiri. Dimana, Teknologi
Revitalisasi Air Bersih yang akan saya buat adalah sebuah teknologi yang
pada dasarnya tidak jauh dengan teknologi desenalisasi milik Peter Johnstone
yaitu, teknologi yang akan saya buat mencakup Total Dissolved Solids (TDS) dan
Zero Liquid Discharge (ZLD). Tentu teknologi yang mampu mencakup dua hal itu
akan membuat perubahan besar di Negara Indonesia. Teknologi Revitalisasi Air
Bersih yang akan saya buat mampu
mengubah limbah menjadi air bersih seutuhnya tanpa kombinasi juga
berkualitas tinggi layaknya milik Peter Johnstone. Pada dasarnya, teknologi ini
memang diluar akal orang – orang dan mungkin akan banyak yang menertawakan ide saya namun, inilah yang
ingin saya buat.
Teknologi Revitalisasi Air Bersih ini akan menggunakan
teknologi tenaga surya sama halnya milik Peter Johnstone dan tenaga listrik.
Mengapa menggunakan dua tenaga yang berbeda? Karena, tujuannya untuk
mengoptimalkan kerja mesin. Untuk dari pagi hari sampai petang tentu
menggunakan tenaga surya, untuk malam harinya sampai menuju pagi akan menggunakan
tenaga listrik tersebut. Pada dasarnya kemampuan dua tenaga tersebut jelas
berbeda dan jauh lebih baik tenaga surya dari pada tenaga listrik. Namun,
teknologi ini diciptakan untuk terus bekerja dan tanpa henti. Hasil teknologi
ini saat menggunakan tenaga surya akan menghasilkan banyak air bersih dengan
kualitas yang tinggi, sebaliknya saat menggunakan tenaga cahaya buatan hanya
menghasilkan sedikit air bersih dan tetap berkualitas tinggi. Tentu, lebih baik
menghasilkan sedikit air bersih dari pada tidak menghasilkan sama sekali.
Mengapa mesin harus bekerja terus dan tidak ada hentinya? Pada dasarnya mesin
ini akan ada hentinya itupun hanya
disaat untuk perawatan mesin pada teknologi ini, namun saat tidak dalam
perawatan maka mesin pada teknologi ini harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan
air bersih di Indonesia.
Menghasilkan kualiatas air bersih yang baik membutuhkan
beberapa tahap dan saya membuat sistem kerjanya dengan membagi secara empat
sektor yang dimana setiap sektor memiliki tahap – tahap pengolahan yang berbeda
tergantung tingkat kesulitan pada air yang diolah. Beberapa sektor diantanya, yaitu
sektor pertama itu untuk produksi air bersih dari air yang terkontaminasi,
sektor kedua itu untuk produksi air
bersih dari air limbah dan untuk sektor ketiga itu untuk produksi air bersih
dari air hujan. Hasil dari ketiga sektor itu akan dijadikan menjadi satu wadah
dan akan dianalisa dan dilakukan percobaan apakah air ini sudah layak digunakan
atau belum layak digunakan. Hasil yang
telah layak digunakan akan didistribusikan, sedangkangkan yang belum layak akan
diproses kembali dan dimasukkan ke sektor keempat sampai air tersebut layak
digunakan. Mengapa sumber mata air
jernih dan air tanah tidak ikut dilakukan proses pengolahan layaknya air yang
lain? Karena, di Indonesia ada PDAM dan
sudah selayaknya itu menjadi tugasnya dan untuk sisa air lainnya biarkan pihak
Perusahaan Industri yang saya ciptakan untuk mengolahnya. Tentu pada dasarnya
saya sangat berharap agar pihak Pemerintah mau membantu saya dalam membangun
Industri ini, karena tentunya tujuannya sama yaitu untuk memberikan
kesejahteraan bagi penduduk Indonesia.
Industri Teknologi Revitalisasi Air Bersih ini tidak hanya
berfokus pada produksi air bersih saja melainkan juga melakukan pendistribusian air bersih
yang telah diolah. Salah satu kendala PDAM saat ini ialah mendistribusikan air
bersih ke daerah terpencil. Tentu saja kita tidak bisa menyalahkan PDAM, karena
pada dasarnya tingkat kesulitan dalam memasok air bersih diderah terpencil
terutama di Indonesia yang pada dasarnya Negara Kepulauan ini mencapai level
tersulit. Tidak hanya memasok air bersih bahkan, untuk memasok apapun seperti halnya Pertamina yang ingin memasok
bahan bakar saja juga kesulitan. Oleh
karena itu, Perusahaan Industri yang akan saya ciptakan ini juga punya solusi
terhadap distribusi air bersih, yaitu dengan membangun pabrik – pabrik di area
terdekat dengan daerah terpencil tersebut dan membuat pipa raksasa dimana pipa
raksasa itu akan dibuat secara safety juga dengan sistem kerja seperti Pompa
Hidram. Pompa Hidram yang digunakan di Indonesia menggunakan tenaga air dan
mampu membuat air naik dari daerah rendah ke daerah tinggi, maka dari itu saya
akan berusaha menciptakan Pompa Hidram dengan tenaga surya dan tidak tergantung
tergantung dengan tenaga air. “Kenapa saya selalu menggunakan tenaga surya ?”
Karena, saya sangat ingin memanfaatkan daerah cuaca panas yang ekstrem di
Indonesia. Mungkin hanya inilah paparan yang mampu saya sampaikan dan jika
ditanya “Apa yang akan dilakukan setelah menjadi sarjana industri ?”, maka saya
akan menciptakan hal diatas. Walapun jika terlihat sepintas yang saya lakukan
bukannlah menciptakan melainkan membuat inovasi terbaru yang telah ada dan
mampu difungsikan secara efektif dan efisien. Fin !!
Referensi :
Admin. “Darurat Kekeringan : Ini 12
Provinsi di Indonesia yang Mengalami Defisit Air”. 15 Desember 2015.
http://blog.acd.id/darurat-kekeringan-ini-12-provinsi-di-indonesia-yang-mengalami-defisit-air/
Alifien. “Masyarakat Indonesia
Kekurangan Air Bersih”. 16 Desember 2015. www.technology-indonesia.com/energi/konservasi-energi/274-masyarakat-indonesia-kekurangan-air-bersih
Anonymous. “Dari mana Air diBumi Berasal
?”. 2 Desember 2015. http://versesofuniverse.blogspot.co.id/2015/05/darimana-air-di-bumi-berasal.html
Chrisbiyanto, Anton. “Indonesia Butuh
Air Bersih”. 2 Desember 2015. http://nasional.sindonews.com/read/862939/18/indonesia-butuh-air-bersih-1399907826
Deni. “Pentingnya Revitalisasi Teknologi
Untuk Penyediaan Air Bersih Demi Kelangsungan Hidup Manusia”. 15 Desember 2015.
http://deni682.blogdetik.com/2012/12/06/pentingnya-revitalisasi-teknologi-untuk-penyaluran-air-bersih-demi-kelangsungan-hidup-manusia/
Loodrecht, Mark Van. “Water Research (A Journal of The
International Water Assosiation)”. 2 Desember 2015. http://www.journals.elsevier.com/water-research/
Prasetijo, Hari., Widandi Soetopo, &
Zulkipli. Desember 2012, “Analisa Neraca Air Permukaan Das Renggung Untuk Memenuhi Kebutuhan Air
Irigasi Dan Domestik”. Jurnal Teknik Pengairan Universitas Brawijaya. Volume 3,
Nomor 2, http://jurnalpengairan.ub.ac.id/index.php/jtp/article/download/153/149,
2 Desember 2015.
Rzn/vlz. “Dari mana Air diBumi berasal
?”. 2 Desember 2015 .http://www.dw.com/id/dari-mana-air-di-bumi-berasal/a-18125809
Suriyatno, Budi. Januari 2000, "Pengelolaan Air Limbah Yang Berwawasan Lingkungan Suatu Strategi Dan Langkah Penganganannya". Jurnal Teknologi Lingkungan, Volume 1, Nomor 1, ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL/article/download/149/144, 2 Desember 2015.
Suriyatno, Budi. Januari 2000, "Pengelolaan Air Limbah Yang Berwawasan Lingkungan Suatu Strategi Dan Langkah Penganganannya". Jurnal Teknologi Lingkungan, Volume 1, Nomor 1, ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL/article/download/149/144, 2 Desember 2015.








Keren kaka wkwk
BalasHapusMakasih, semoga bermanfaat.
BalasHapus