LAPORAN PENELITIAN
SISTEM REVITALISASI TERHADAP PRODUKSI INDUSTRI AIR
BERSIH DENGAN REKAYASA SUNGAI/ WADUK DI
INDONESIA
Nama (NPM) :
Indrawan Juliansyah Lubis / 35414313
Kelas : 3ID07
Dosen : Syariffudin
Nasution
JURUSAN
TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS
TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
DEPOK
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan zaman yang sudah dewasa saat ini tanpa sadar semakin
cepat dan tidak dapat dipungkiri saatnya Indonesia harus segera membenahi
berbagai hal dan salah satunya dalam sektor Sumber Daya Alam (SDA). Berbagai
hal memang telah diupayakan, namun masih saja terdapat kendala. Kendala yang
saat ini masih canggung di Indonesia ialah air bersih. Air merupakan Sumber
Daya Alam (SDA) yang paling penting dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa tanpa
air angka kematian semakin tinggi. Air pada dasarnya tergolong beberapa
seperti, air tawar, air laut dan sebagainya, namun disini menitik beratkan
kepada air bersih dikarenakan air bersih mampu dipergunakan dalam keseharian
dan dapat dikonsumsi.
Permasalahan utama
ialah air bersih didunia ini hanya tersedia 3% dan artinya di Indonesia hanya
mendapat sepersekian persen dari total 3% air bersih tersebut. Banyak yang
merasa bahwa ini bukan masalah besar dan itu hal wajar dan normalnya yang
berbicara begitu adalah masyarakat yang tinggal diperkotaan dan bagaimana yang
tinggal didaerah terpencil, sudah pasti sangat merasakan minimnya air bersih.
Melihat keadaan tersebut sudah saatnya harus mencari berbagai cara agar
permasalahan tersebut dapat diatasi juga terselesaikan dengan menciptakan suatu
sistem revitalisasi terhadap penyelesaian air bersih.
Revitalisasi air bersih
memanglah bukanlah hal lama dan lumrah mengingat terdahulu Negara Australia
sebelumnya telah menciptakannya dengan penggunaan tenaga surya. Revitalisasi
air bersih pada kesempatan kali ini mengembangkan tekonologi tersebut dan tentunya akan
menyelesaikan kendala yang terdapat pada Negara ini juga mampu menghasilkan air
bersih yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Indonesia perlahan semakin dewasa dan wajib harus menyelesaikan berbagai
permasalahan yang ada dan dapat memajukan Indonesia.
1.2 Perumusan
Masalah
Perumusan masalah merupakan masalah-masalah yang akan dibahas pada Laporan
Penelitian terhadap Sistem Revitalisasi terhadap Produksi Industri Air Bersih dengan
Rekayasa Sungai/ Waduk di Indonesia dengan Teknologi Desenalisasi.
Perumusan
masalah terhadap Teknologi Desenalisasi menekankan terhadap proses yang
menghilangkan kadar garam berlebih dalam air untuk mendapatkan air yang dapat dikonsumsi hewan, tanaman, tumbuhan dan manusia. Seringkali proses ini
juga menghasilkan garam dapur sebagai hasil sampingan.
1.3 Pembatasan
Masalah
Pembatasan
masalah merupakan batasan-batasan yang dimaksudkan untuk membatasi topik
permasalahan agar tidak menyimpang dari pokok bahasan. Berikut ini adalah
pembatasan masalah yang ada ialah tidak menjauh dari persoalan terhadap Air
Bersih, Teknik Pengairan dan Teknologi Desenalisasi
1.4 Tujuan
Penulisan
Tujuan penulisan
merupakan hal-hal yang menjadi tujuan dalam penulisan Laporan Penelitian terhadap
Sistem Revitalisasi terhadap Produksi Industri Air Bersih dengan Rekayasa Sungai/ Waduk
di Indonesia. Tujuan dari Laporan ini diantaranya sebagai berikut.
1. Mengetahui kebutuhan air bersih
2. Mengetahui sistem revitalisasi bekerja untuk
menghasilkan air bersih dan menyelesaikan permasalahan di Indonesia
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 2.1 Asal
Mula Air
Normal asal mula air
Planet Bumi ini memiliki cerita yang cukup panjang dan kompleks yang merenggang
kembali ke sekitar 13,8 miliar tahun lalu, yaitu beberapa saat setelah
terjadinya Big Bang dan bagian penting dari cerita, berpusat pada dua penghuni
tata surya, telah hangat diperdebatkan selama beberapa dekade. Sekitar tiga
menit setelah Big Bang, temperatur alam semesta terus menurun menjadi satu
milyar Kelvin. Energi kinetik yang dihasilkan temperatur sebesar ini sudah
tidak mampu lagi menahan gaya nuklir kuat antara proton dan netron yang
selanjutnya, bergabung menjadi inti-inti atom ringan. Proses ini dinamakan
sebagai proses nukleosintesis. Salah satu prestasi besar kosmologi modern
adalah deskripsi matematis dari proses ini, yang memberikan prediksi akurat
untuk kelimpahan kosmik dari inti-inti atom yang paling sederhana yaitu
hidrogen, lebih sedikit helium dan hanya beberapa lithium.
Terciptanya hidrogen
dengan berlimpah ini adalah awal yang tepat dalam perjalanan menuju terciptanya
molekul air, tapi bagaimana dengan atom penting lain dari air, yaitu oksigen?
Di situlah peran bintang, yaitu sekitar satu miliar tahun setelah Big Bang,
bintang-bintang generasi pertama masuk dalam cerita ini. Jauh di dalam interior
panas mereka, tungku nuklir bintang-bintang memadukan inti-inti sederhana yang
tercipta setelah Big Bang menjadi elemen-elemen yang lebih kompleks, termasuk
karbon, nitrogen dan, oksigen. Kemudian, dalam bagian akhir kehidupan bintang,
ketika bintang bersupernova ledakannya memuntahkan elemen-elemen ini ke ruang
angkasa. Oksigen dan hidrogen bergabung menciptakan H2O. ada juga
bagian di mana cerita menjadi sedikit lebih rumit. Molekul-molekul air yang
pasti menjadi bagian dari pusaran berdebu yang mengelilingi bintang-bintang
generasi kedua (seperti matahari kita) yang baru lahir dan membentuk
planet-planet dan obyek-obyek tata surya lainnya. Peristiwa seperti ini dimulai
sekitar sembilan miliar tahun setelah Big Bang. Sejarah awal bumi, suhu
lingkungan sangat tinggi dan tidak ada atmosfer yang membungkus, menyiratkan
bahwa air permukaan akan menguap dan melayang kembali ke angkasa.
Air yang dimiliki saat
ini, tampaknya, haruslah ada lama setelah Bumi terbentuk. Tata surya kita,
selama periode sekitar 4 miliar tahun yang lalu yang disebut Late Heavy
Bombardment, obyek-obyek besar, asteroid dan/atau komet menabrak bumi dan
planet-planet dalam. Ada kemungkinan bahwa obyek-obyek tersebut mengandung air,
dan bahwa tabrakan-tabrakan tersebut bisa menciptakan lautan air yang memenuhi
bumi. Namun, pengukuran jarak jauh dari air yang menguap dari beberapa komet
besar yang ada (Halley, Hyakutake, dan Hale-Bopp) mengungkapkan bahwa air es
mereka dibuat dari berbagai jenis H2O (mengandung isotop Hidrogen
yang lebih berat) dari H2O Bumi, menunjukkan bahwa komet ini tidak
bisa menjadi sumber air kita. Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh misi
rosetta terhadap komet 67P/Churyumov-Gerasimenko menunjukkan bahwa jenis
hidrogen pada airnya berbeda dengan air bumi. Sejak Agustus wahana antariksa
Rosetta mengorbit komet 67P/Churyumow-Gerasimenko. Peneliti Badan
Antariksa Eropa (ESA) itu mempublikasikan data pertama hasil analisa terhadap
air yang terperangkap di tubuh komet. Hasilnya, air yang membeku di komet Chury
berbeda dengan air yang terdapat di permukaan Bumi, tulis tim ilmuwan yang
dipimpin oleh Kathrin Altwegg dari Universitas Bern di jurnal ilmiah, Science.
Temuan tersebut
mengesampingkan komet sebagai sumber air di Bumi. Analisanya, Atlwegg dan
timnya meneliti rasio Hidrogen berat dan Hidrogen ringan yang membentuk air
jika digabungkan dengan Oksigen. Ketika inti atom Hidrogen ringan cuma memiliki
satu Proton, Hidrogen berat alias Deutrium memiliki tambahan Neutron pada inti
atomnya. Studi mengungkap, jejak Hidrogen Berat pada Chury berjumlah tiga kali
lebih banyak ketimbang di samudera Bumi. Penelitian serupa pada komet lain
menemukan jumlah Hidrogen berat yang lebih sedikit. Altwegg mengatakan rasio
Hidrogen berat berbeda-beda pada komet dengan jenis yang sama. Seperti, pada
komet Haley. Kedua komet terbentuk di Sabuk Kuiper. Secara umum, hasil
penelitian itu membuktikan bahwa air yang terperangkap di tubuh komet berbeda
jauh dengan air di Bumi. Setidaknya air di Bumi tidak berasal dari keluarga
komet Churyumov-Gerasimenko, begitu kesimpulan peneliti. Dengan temuan ini
dunia sains kembali melirik Asteroid sebagai sumber air di Bumi. Asal
usul air di Bumi sejauh ini belum bisa dijelaskan secara menyeluruh. Teori yang
populer menyebut samudera di Bumi terbentuk berkat hantaman komet dan asteroid
yang banyak terjadi pada awal pembentukan planet. Penjelasan alternatif adalah
bahwa Bumi sejak awal merupakan planet yang kaya air. Teori tersebut
dipublikasikan di jurnal Science belum lama ini. Pada Asteoroid Vesta, para peneliti
menemukan rasio Hidrogen berat dan Hidrogen ringan yang serupa dengan air di
Bumi.
Analisa tersebut
menyimpulkan air sudah terbentuk di lingkaran terdalam sistem tata surya muda
dalam jumlah besar. Selama ini ilmuwan meyakini air di Bumi berasal dari sabuk
Kuiper yang berada di lingkaran terluar. Namun, studi yang lain mengungkap,
sebagian air di Bumi berusia lebih tua dari sistem matahari. Agustus silam
peneliti dari Carnegie Institution for Science di Washington mengklaim, air di
Bumi berawal sebagai awan molekuler di ruang antarbintang yang kemudian
membentuk matahari dan planet. Dengan komet besar dicoret daftar, astronom
mulai bertanya-tanya apakah mungkin petunjuk tentang air bumi terletak di sabuk
asteroid. Wilayah ratusan ribu asteroid yang mengorbit antara planet-planet
dalam dan luar tata surya kita ini awalnya diyakini oleh para astronom terlalu
dekat dengan matahari untuk menjadi rumah air, namun para astronom menemukan
bukti pertama es di asteroid 24 Themis. Penemuan ini diikuti penemuan-penemuan
lainnya dari es di asteroid menunjukkan bahwa mungkin ada jauh lebih banyak es
di sabuk asteroid daripada yang diperkirakan dan memberikan kemungkinan yang
cukup besar, bahwa asteroid-asteroid lah yang merupakan asal air di bumi.
2.2
2.2 Teknologi
Desenalisasi (Desalinasi)
Sejarah teknologi desenalisasi
atau biasa dikenal desalinasi dimulai di awal abad ke 19, yang dimulai dengan
teknologi submerge tube, dalam kurun
waktu 40 tahun perkembangannya tidak begitu menonjol. Teknologi desenalisasi
ini justru cepat berkembang ketika perang dunia kedua meletus di awal tahun
1940. Ketika itu dibutuhkan pasokan air minum bagi prajurit yang berada di
daerah terpencil dankesulitan untuk mendapatkan air minum. Tahun 1960,
instalasi desenalisasi jenis themial
sudah dapat menghasilkan air bersih sebanyak 8000 m2/hari atau 2
mgd. (1m2 = 4000 mgd USA). Di awal tahun 1970, teknologi membran
seperti electro dyallsis dan reverse osmosis mulai berkembang dan
menarik perhatian, serta dapat bersaing dengan teknologi sebelumnya. Hal ini
disebabkan kemampuan dan keleluasaannya dalam beroperasi untuk memenuhl
kebutuhan airminum di daerah perkotaan, Industri dan parawisata.
Desenalisasi air laut memisahkan air tawar
dari air laut. Proses desaiinasi dapat dilakukan dengan distilasl atau reverse osmosis. Pemisahan air tawar
dari air taut atau air payau merupakan perubahan fase air, sedangkan reverse
osmosis memisahkan air tawar dengan menggunakan perbedaan tekanan dan semi
permeable membrane. Berikutnya, disamping peralatan yang spesifik untuk tiap
instalasi desenalisasi. peratalan-peralatan lain yg umum terdapat pada suatu
instalasi desenalisasi adalah : sistem hisapan air laut/air baku, termasuk
pompa penghisap, saringan screen) dan
sarangan (filter), jaringan plpa air
produk desenalisasi, tangki penampungan (storage
tank), peralatan penerima dan pembagi aiiran listrik (panel distribution box). Secara skematis berbagai jenis teknologi
distilasi dapat dilihat dari gambar dlbawah inl:
Gambar
2.1 Proses Desenalisasi (Desalinasi)
Pemilihan proses
teknologi desenalisasi didasarkan pada beberapa faktor, antara lain:
1. Salinitas (kadar zat teriarut air
masukan)
2. Kualltas air bersih yang ditnginkan
3. Sumber energi yang akan digunakan
untuk produksl air
4. Debit air yang diperlukan
5. Faktor ekonomi, keandalan juga kemudahan
operasi dan perawatannya.
Teknologi desenalisasi termal jenis Multistage
Flash (MSF), MultiEffect Distillation (MED) dan Multi Vapour Compression (MVC)
dapat memumikan air dari kadar 55000 ppm menjadi sekitar 10 ppm, sedangkan
proses membran jenis Reverse Osmosis (RO) dengan sekali proses dapat
menghasilkan air tawar dengan IDS berkisar antara 350-500 ppm. Berikutnya, pada
proses distiilasi air laut/air baku dipanasi agar air tawar yang terkandung di
dalamnya mendidih dan menguap, kemudian uapnya di embunkan untuk memperoieh air
tawar. Proses distilasi ini dapat menghasilkan air tawar berkualitas tinggi
dibandingkan dengan kualitas air tawar yang dihasilkan oleh proses lain.
Selanjutnya, ada tekanan 1 atm air akan mendidih dan menguap pada suhu 100° C.
namun air di dalam alat penguap (evaporator) mendidih dan menguap pada suhu
kurang dari 100° C bila tekanan di dalam evaporator diturunkan dibawah 1 Atm
atau dalam keadaan vacuum. Penguapan air memerlukan panas penguapan berupa
panas latent yang terkandung dalam
uap yang dihasilkan. Sebaliknya pada saat uap menyembur panas latentnya
dilepaskan yang dapat memanasi air laut/baku umpan sebagai pemanasan
pendahuluan (preheating) atau
menguapkannya, pada proses distilasi,air la'Jt/air baku digunakan sebagai bahan
air umpan pembuatan air tawar maupun sebagai media pendingin, dengan jumlah
yang diperlukan kurang dari 8-10 kali dari Jumlah air tawar yang dihasilkan.
Uap dari ketel uap atau sumber lain digunakan sebagai pemanas dengan tekanan
2-3,5 kg/cm dan penjalan ejector dengan tekanan 10-12 kg/cm. Umumnya jumlah uap
untuk pemanasan antara 1/8 sampai 1/6 dari jumlah air tawar yang dihasilkan,
perbandingan antara jumlah air tawar yang dihasilkan dengan jumlah uap yang
diperlukan disebut performance ratio
(PR) dalam proses reverse osmosis
atau Gained Output Ratio (GOR) dalam
proses distilasi. Masalah yang umum terdapat pada proses distilasi iaiah
terjadinya pengkerakan dan korosi pada bagian bagian peraiatan. Timbulnya
lapisan kerak pada pipa-pipa penukar panas evaporator menyebabkan turunnya
kemampuan pemindahan panas yang berakibat menurunnya jumlah air tawar yang
dihasilkan, pada keadaan yang demikian instalasi perlu dimatikan untuk
pelaksanaan pembersihan kimia (chemical
cleaning), untuk mencegah atau menghambat proses pengkerakan itu perlu
dilakukan proses treatment yang tepat dan teratur. akan mengganggu
pengoperasian instalasi, selain menuainnya hasil produk air tawar, untuk
perbaikannya pun memerlukan waktu dan biaya yang tinggi, oleh sebab itu dalam desainnya diperlukan material yang sesuai
dengan kondisi pengoperasiannya.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 Studi Kasus
Berbicara
air bersih di Indonesia tentu tidak akan ada habisnya dan bahkan Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNBP) telah menyatakan 12 Provinsi di Indonesia
mengalami kekeringan parah, berdasarkan data yang dilansir National Geographic
wilayah – wilayah yang mengalami meliputi 77 Kabupaten Kota dan 526 Kecamatan.
Bahkan, 20 persen dari penduduk Indonesia meninggal diakibatkan kekurangan air
bersih. Tentu sebenarnya saat ini Indonesia tengah berupaya mencari solusi demi
solusi untuk menyelesaikan masalah ini diantaranya yaitu, dengan pemanfaatan
air hujan seperti analisa dari Teknik Pengairan Universitas Brawijaya, ada juga
solusi dengan menggunakan Pompa Hidram (Hidrolik Ram) di area Gunung Rinjani
dan juga Indonesia mencoba bekerjasama dengan Perusahaan Australia dimana
mereka mengenalkan Teknologi Desenalisasi. Teknologi ini menggunakan tenaga
surya dan mencakup Zero Liquid Discharge (ZLD) yang mampu mengubah air yang
terkontaminasi dan air laut menjadi air bersih berkualiatas tinggi tanpa
meninggalkan emisi gas rumah kaca dan untuk penyulingan pada limbah
hasilnya merupakan kombinasi antara air minum dan garam. Teknologi ini
diciptakan oleh Peter Johnstone dan ia berharap mampu membangun
pabriknya di Indonesia dengan investasi $10 Juta USD dan untuk hak
patennya sendiri telah digunakan sampai 26 Negara yang ada di
Didunia ini.
3.2 Hasil dan Pembahasan
Paparan diatas tersebutlah yang membuat
saya secara pribadi prihatin dan ingin menciptakan perubahan pada Negara
Tercinta ini. Saya ketika kelak lulus Teknik Industri sangat ingin menciptakan
Perusahaan Industri Berbasis Revitalisasi Air Bersih walaupun hal tersebut akan
membutuhkan proses yang sangat panjang dan saya harapkan kelak Pihak Pemerintah
mau membantu saya dalam menciptakan Industri besar ini, karena saya yakin untuk
menjawab soal “Bagaimana cara menyelesaikan permasalahan kesulitan air bersih
di Indonesia ?” maka jawaban yang tepat adalah menciptakan revitalisasi air
bersih dengan baik dan mampu menjangkau seluruh Indonesia. Revitalisasi secara
definisi menurut saya, ialah proses pembaharuan dan perbuatan untuk menjadi
vital. Jadi, Revitalisasi yang saya maksud ialah pembaharuan pada proses
produksi dan distribusi atau penyaluran ke seluruh penduduk Negara di
Indonesia.
Berdasarkan sedikit
paparan mengenai solusi diatas membuat saya berfikir, bukankah dari pada kita
bergantung dengan Negara lain alangkah baiknya terutama saya dapat membantu
Negara saya sendiri. Dimana, Teknologi Revitalisasi Air Bersih yang
akan saya buat adalah sebuah teknologi yang pada dasarnya tidak jauh dengan
teknologi desenalisasi milik Peter Johnstone yaitu, teknologi yang akan saya
buat mencakup Total Dissolved Solids (TDS) dan Zero Liquid Discharge (ZLD).
Tentu teknologi yang mampu mencakup dua hal itu akan membuat perubahan besar di
Negara Indonesia. Teknologi Revitalisasi Air Bersih yang akan saya buat
mampu mengubah limbah menjadi air bersih seutuhnya tanpa kombinasi juga
berkualitas tinggi layaknya milik Peter Johnstone. Pada dasarnya, teknologi ini
memang diluar akal orang – orang dan mungkin akan banyak yang
menertawakan ide saya namun, inilah yang ingin saya buat.
Teknologi Revitalisasi
Air Bersih ini akan menggunakan teknologi tenaga surya sama halnya milik Peter
Johnstone dan tenaga listrik. Mengapa menggunakan dua tenaga yang berbeda?
Karena, tujuannya untuk mengoptimalkan kerja mesin. Untuk dari pagi hari sampai
petang tentu menggunakan tenaga surya, untuk malam harinya sampai menuju pagi
akan menggunakan tenaga listrik tersebut. Pada dasarnya kemampuan dua tenaga
tersebut jelas berbeda dan jauh lebih baik tenaga surya dari pada tenaga
listrik. Namun, teknologi ini diciptakan untuk terus bekerja dan tanpa henti.
Hasil teknologi ini saat menggunakan tenaga surya akan menghasilkan banyak air
bersih dengan kualitas yang tinggi, sebaliknya saat menggunakan tenaga cahaya
buatan hanya menghasilkan sedikit air bersih dan tetap berkualitas tinggi.
Tentu, lebih baik menghasilkan sedikit air bersih dari pada tidak menghasilkan
sama sekali. Mengapa mesin harus bekerja terus dan tidak ada hentinya? Pada
dasarnya mesin ini akan ada hentinya itupun hanya disaat untuk perawatan
mesin pada teknologi ini, namun saat tidak dalam perawatan maka mesin pada
teknologi ini harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan air bersih di
Indonesia.
Menghasilkan kualiatas
air bersih yang baik membutuhkan beberapa tahap dan saya membuat sistem
kerjanya dengan membagi secara empat sektor yang dimana setiap sektor memiliki
tahap – tahap pengolahan yang berbeda tergantung tingkat kesulitan pada air
yang diolah. Beberapa sektor diantanya, yaitu sektor pertama itu untuk produksi
air bersih dari air yang terkontaminasi, sektor kedua itu untuk produksi
air bersih dari air limbah dan untuk sektor ketiga itu untuk produksi air
bersih dari air hujan. Hasil dari ketiga sektor itu akan dijadikan menjadi satu
wadah dan akan dianalisa dan dilakukan percobaan apakah air ini sudah layak
digunakan atau belum layak digunakan. Hasil yang telah layak digunakan
akan didistribusikan, sedangkangkan yang belum layak akan diproses kembali dan
dimasukkan ke sektor keempat sampai air tersebut layak digunakan. Mengapa
sumber mata air jernih dan air tanah tidak ikut dilakukan proses pengolahan
layaknya air yang lain? Karena, di Indonesia ada PDAM dan sudah
selayaknya itu menjadi tugasnya dan untuk sisa air lainnya biarkan pihak
Perusahaan Industri yang saya ciptakan untuk mengolahnya. Tentu pada dasarnya
saya sangat berharap agar pihak Pemerintah mau membantu saya dalam membangun Industri
ini, karena tentunya tujuannya sama yaitu untuk memberikan kesejahteraan
bagi penduduk Indonesia.
Industri Teknologi
Revitalisasi Air Bersih ini tidak hanya berfokus pada produksi air bersih saja
melainkan juga melakukan pendistribusian air bersih yang telah diolah.
Salah satu kendala PDAM saat ini ialah mendistribusikan air bersih ke daerah
terpencil. Tentu saja kita tidak bisa menyalahkan PDAM, karena pada dasarnya
tingkat kesulitan dalam memasok air bersih diderah terpencil terutama di Indonesia
yang pada dasarnya Negara Kepulauan ini mencapai level tersulit. Tidak hanya
memasok air bersih bahkan, untuk memasok apapun seperti halnya Pertamina
yang ingin memasok bahan bakar saja juga kesulitan. Oleh karena itu,
Perusahaan Industri yang akan saya ciptakan ini juga punya solusi terhadap
distribusi air bersih, yaitu dengan membangun pabrik – pabrik di area terdekat
dengan daerah terpencil tersebut dan membuat pipa raksasa dimana pipa raksasa
itu akan dibuat secara safety juga dengan sistem kerja seperti Pompa Hidram.
Pompa Hidram yang digunakan di Indonesia menggunakan tenaga air dan mampu
membuat air naik dari daerah rendah ke daerah tinggi, maka dari itu saya akan
berusaha menciptakan Pompa Hidram dengan tenaga surya dan tidak tergantung
tergantung dengan tenaga air. “Kenapa saya selalu menggunakan tenaga surya ?”
Karena, saya sangat ingin memanfaatkan daerah cuaca panas yang ekstrem di
Indonesia. Mungkin hanya inilah paparan yang mampu saya sampaikan dan jika
ditanya “Apa yang akan dilakukan setelah menjadi sarjana industri ?”, maka saya
akan menciptakan hal diatas. Walapun jika terlihat sepintas yang saya lakukan
bukannlah menciptakan melainkan membuat inovasi terbaru yang telah ada dan
mampu difungsikan secara efektif dan efisien. Selain diatas, cara lainnya ialah
saya akan membuat rekayasa sungai atau waduk dengan 3 Gerbang utama yaitu,
gerbang pertama sebagai penyaringan sampah atau kotoran, lalu gerbang kedua
dengan bantuan teknologi desenalisasi dibagian dasar akan ditanam plasma panas
untuk memanaskan air sungai/ waduk agar menghilangkan bakteri air juga secara
bersamaan ikut melakukan penyaringan sampah atau kotoran dan gerbang terakhir
juga akan ditanam plasma panas untuk memanaskan air sungai/ waduk agar
menghilangkan bakteri air. Setelah melewati gerbang ketiga air tersebut tetap
dipanaskan, namun akan dihalangi oleh penutup kaca besar agar uap air tersebut
ditangkap dan akan disterilisasi menjadi agar menjadi air bersih dan dapat
dikonsumsi. Sebagai tambahan, Plasma ini menggunakan tenaga surya.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Banyak yang merasa bahwa ini bukan masalah besar
dan itu hal wajar dan normalnya yang berbicara begitu adalah masyarakat yang
tinggal diperkotaan dan bagaimana yang tinggal didaerah terpencil, sudah pasti
sangat merasakan minimnya air bersih. Sistem revitasliasinya ialah membuat
rekayasa sungai atau waduk dengan 3 Gerbang utama yaitu, gerbang pertama
sebagai penyaringan sampah atau kotoran, lalu gerbang kedua dengan bantuan
teknologi desenalisasi dibagian dasar akan ditanam plasma panas untuk
memanaskan air sungai/ waduk agar menghilangkan bakteri air juga secara
bersamaan ikut melakukan penyaringan sampah atau kotoran dan gerbang terakhir
juga akan ditanam plasma panas untuk memanaskan air sungai/ waduk agar
menghilangkan bakteri air. Setelah melewati gerbang ketiga air tersebut tetap
dipanaskan, namun akan dihalangi oleh penutup kaca besar agar uap air tersebut
ditangkap dan akan disterilisasi menjadi agar menjadi air bersih dan dapat
dikonsumsi. Sebagai tambahan, Plasma ini menggunakan tenaga surya.
4.2. Saran
Saran
diperlukan untuk perbaikan dalam
laporan penelitian agar lebih baik kedepannya. Berikut ialah saran
yang diberikan dalam laporan
penelitian diantaranya, Peneliti harus lebih
berhati-hati dan mampu memilih metode
yang baik dan cermat terhadap penyelesaikan suatu permasalahan yang ada. Peneliti harus memerhatikan segala
aturan yang ada sehingga hasil yang didapat akan baik. Mengetahui dan mengerti konsep yang baik dalam mencari data terhadap
penelitian. Peneliti harus teliti pada saat menguraikan
elemen-elemen.
DAFTAR
PUSTAKA
Admin.
“Darurat Kekeringan : Ini 12 Provinsi di Indonesia yang Mengalami Defisit Air”.
5 Januari 2017.
http://blog.acd.id/darurat-kekeringan-ini-12-provinsi-di-indonesia-yang-mengalami-defisit-air/
Alifien.
“Masyarakat Indonesia Kekurangan Air Bersih”. 6 Januari 2017.
www.technology-indonesia.com/energi/konservasi-energi/274-masyarakat-indonesia-kekurangan-air-bersih
Anonymous.
“Dari mana Air diBumi Berasal ?”. 2 Januari 2017.
http://versesofuniverse.blogspot.co.id/2015/05/darimana-air-di-bumi-berasal.html
Chrisbiyanto,
Anton. “Indonesia Butuh Air Bersih”. 2 Januari 2017.
http://nasional.sindonews.com/read/862939/18/indonesia-butuh-air-bersih-1399907826
Deni.
“Pentingnya Revitalisasi Teknologi Untuk Penyediaan Air Bersih Demi
Kelangsungan Hidup Manusia”. 5 Januari 2017.
http://deni682.blogdetik.com/2012/12/06/pentingnya-revitalisasi-teknologi-untuk-penyaluran-air-bersih-demi-kelangsungan-hidup-manusia/
Loodrecht,
Mark Van. “Water Research (A Journal of The International Water
Assosiation)”. 2 Januari 2017.
http://www.journals.elsevier.com/water-research/
Nugroho,
Ari. “Uraian Umum Teknologi Desalinasi”. 2 Januari 2017. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=306374&val=4551&title=URAIAN%20UMUM%20TENTANG%20TEKNOLOGI%20DESALINASI
Prasetijo,
Hari., Widandi Soetopo, & Zulkipli. Januari 2012, “Analisa Neraca Air
Permukaan Das Renggung Untuk Memenuhi Kebutuhan Air Irigasi Dan
Domestik”. Jurnal Teknik Pengairan Universitas Brawijaya. Volume 3, Nomor 2,
http://jurnalpengairan.ub.ac.id/index.php/jtp/article/download/153/149, 2 Januari
2017.
Rzn/vlz.
“Dari mana Air diBumi berasal ?”. 2 Januari 2017
.http://www.dw.com/id/dari-mana-air-di-bumi-berasal/a-18125809
Suriyatno, Budi. Januari 2000, "Pengelolaan Air Limbah Yang Berwawasan
Lingkungan Suatu Strategi Dan Langkah Penganganannya". Jurnal Teknologi
Lingkungan, Volume 1, Nomor 1, ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL/article/download/149/144,
2 Januari 2017.